BATU
TONGKOK
TERSEBUTLAH KISAH SEORANG RAJA YANG MEMILIKI SEPASANG PUTRA KEMBAR, RAJA TERSEBUT MENGUASAI DAERAH KERAJAAN CUKUP LUAS , DENGAN KEADAN RAKYAT YANG AMAN, DAMAI DAN MAKMUR. Karena keadan itulah maka raja sangat di cintai oleh rakyatnya. Akan hal nya putra raja yang kembar, memiliki kebiasaan bila makan maka lauknya harus menggunakan gula merah
ADEGAN 1
Diruangan tamu kerajaan tampaklah raja dan kedua putranya sedang berbincang.Raja: “anakku, kenapa kau tak ingin makan tanpa harus dengan gula merah?”
Putra 1: “ayah… aku tidak terbiasa kalau tiada gula merah, aku tidak bias makan.”
Putra 2: “sama sepertiku juga ayah, benar yang di katakana kaka.”
Raja: “bagaimana kalau persedian gula merah akan habis?”
Ptr 1-2: “pokonya kami mau makan harus menggunakan gula merah” (sambil kesal)
Akhirnya kedua putra kerajaan pergi meninggalkan raja di ruangan tamu.
ADEGAN 2
Sang raja akhirnya memanggil kedua prajuritnya untuk menggumumkan ke pada
rakyak untuk menanam pohon aren.Raja: “baiklah prajuritku yang setia, sekarang aku ingin kau member tahu semua rakyat untuk menanam pohon aren sebanyak-banyaknya.”
Prjurit 1-2: “baik baginda, perintah baginda akan dilaksanakan.”
ADEGAN 3
Akhirnya tibalah kedua prajurit ke tengah desa.Prajurit 1: “di harapkan semua warga berkumpul.”
Prajurit 2: “kedatangan kami ke sini ingin menyampaikan pesan baginda”
Prajurit 1: “baginda mengatakan semua warga desa harus menanam pohon aren di perkebunan kerajaan.”
Warga 1: “memangnya untuk apa banginda menginginkan kami untuk menanam pohon aren?”
Warga 2: “untuk apa baginda menanam pohon aren sebanyak itu?”
Warga 3: “baiklah kami akan melaksanakan perintahnya, kapan bias kami mulai?”
Prajurit 2: “besok.”
Akhirnya warga pergi untuk mempersiapkan alat untuk menanam pohon aren besok.
ADEGAN 4
Akhirnya hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun.
Pohon aren di kebun kerajaan tumbuh dengan suburnya, dan hasil peningkatan gula
pun meningkat.Prajurit 1: “lapor, baginda hasil perkebunan kami meningkat.”
Raja: “baiklah terimakasih, kau boleh pergi mengerjakan tugas mu kembali.”
(tak lama kemudian datanglah permaisuri menghampiri raja)
Permaisuri: “kakanda, ini merupakan kerja keras dari para warga, kita bersyukur dan terimakasih kepada warga.”
Raja: “betul sekali adinda, aku begitu bangga sekali dengan rakyatku.”
ADEGAN 5
Di istana kerajaan, tiba-tiba datanglah tiga warga ke istanamembawa berita
buruk.Raja: “ada apa wargaku, apa yang membuat kalian datang ke sini?”
Warga 3: “maaf baginda, pohon aren di kebun kerajaan tidak bias berbuah lagi, karena pohon tersebut terkena penyakit yang tidak kita ketahui obatnya.”
Wrga 1-2: “betul baginda”
(sang raja pun kaget mendengar berita tersebut)
ADEGAN 6
Di taman kerajaan tampak lah raja sedang ke binggungan.
Putra 1: “ayah, apa yang membuat ayah resah dan gelisah?”
Putra 2: “betul ayah, ada apa gerangan?”
Raja: “pohon aren di kebun kita sudah tidak akan berbuahlagi
sampai kapan pun, dan persedian gula sudah begitu menipis”
Putra 1-2: “(kaget) “apa!!??”
Putra 2: “bagaimana mungkin ayah, kenapa bias terjadi?”
Raja: “ayah juga tidak tahu, katanya pohon aren di kebun
kerajaan terkena penyakit tidak ada obatnya.”
Raja begitu bersedih bagaimana cara anaknya bias makan gula
nanti.
Akhirnya raja pergi ke tempat daerah-daerah lain untuk
mencari gula
ADEGAN 7
Di pelabuhan desa.
Permaisuri: “apa kakanda yakin dengan keputusan kanda?”
Putra 2: “iya ayah.. kami tidak ingin ayah kenapa napa.”
Raja: “keputusan ayah sudah tidak bias di tunda lagi, ini
demi kalian berdua.”
Putra 1: “baiklah ayah handa, ayah harus berhati hati disaat
perjalanan nanti, doa kami akan selalu menyertaimu.”
(raja memeluk kedua putra nya dan akhirnya pergi sambil
mlambaikan tangan)
ADEGAN 8
Tanpa terasa hari berganti hari, bulan berganti bulann dan
tahun berganti tahun.sang raja pun tak pernah kembali, dan permaisuri mulai
termenung semenjak kepergian raja dan kedua putra kembar pun sudah tumbuh
dewasa. Permaisuri pun sudah begitu tua sampai sampai di sekujur tubuhnya mulai
menjadi batu sedikit demi sedikit.
Diruanagn kerajaan tampalah dua putra kembar sedang
berbincang.
Putra 2: “kak, apa yang harus kita lakukan dengan keadaan
ibu seperti ini?” (sambil berjalan ke kursi)
Putra 1: “(kebingungan) “entalah dik, aku pun tak tahu,
semenjak kepergian ayah ibu selalu duduk termenung di taman kerajaan.”
Putra 2: “iya kak… aku pun kasihan dengan keadan ibu, dan lebih
kasihanku lagi, tubuhnya mulai sedikit demi sedikit menjadi batu (sambil
menangis)
Karena kakanya melihat adik nya menagis dan kakanya pun
terbawa ikut menangis.
ADEGAN 9
Seminggu telah berlalu ,akhirnya putra pertama berniat untuk
pergi dari kerajaan untuk melangsungkan kehidupannya.
Ditaman kerajaan dua putra kembar sedang mendampingi ibunya
yang telah sekian lama termenung.
Putra 1: “(sambil memegang tangan permaisuri) “bu… saya akan
pergi untuk melanjutkan kehidupan saya yang akan datang, ibu tenang saja, ada
adik yang akan menjaga ibudi sini” (sambil menagis)
Permaisuri pun menangis mendengar putra pertama berkata
seperti itu.
Putra 2: “kak, kaka jangan takut, kaka pergi saja ada aku
dan para pengawal istana yang akan menjaga ibu.”
ADEGAN 10
Paginya di depan istana, putra pertama sudah siap dengan
kudanya untuk pergi.
Putra 2: “(sambil bersedih) “kaka jaga diri baik baik ya di
sana” (sambil memegang pundak putra 1)
Putra 1: “baiklah jaga ibu baik baik di sini.”
(akhirnya mereka berpelukan di depan gerbang istana dan
akhirnya putra pertama pun pergi sambil melambaikan tangan nya)
Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat permaisuri pun
telah menjadi batu dan putra kedu telah berubah menjadi seekor kera, kera
tersebut senantiasa menjaga batu yang dari permaisuri tersebut.
+TAMAT+
Penyusun naskah drama:.M.AKBAR SMP 4 SUMBAWA BESAR
GMAIL: akbarfittho@gmail.com